Tuesday, 29 January 2013
Tuesday, 8 January 2013
Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Hidup adlh hitungan amal bkn sekedar hitungan waktu...
Bertambahnya usia sebuah momen utk muhasabah diri untuk menjadi lebih baik lagi..
Untuk sayangku yg sdg berulang tahun...
Semoga semakin bijaksana dlm menghadapi setiap detik kehidupan yg kamu lalui..
Semoga semua harapan dan cita2mu bs tercapai...
Sekali lagi aku ucapkan untuk sayangku...
Semoga usia yg sudah dilalui dan yg akan dilalui selalu dalam keberkahan Allah Ta'ala...Aamiin...
Berdzikirlah selalu sayangku.... <3 nbsp="nbsp" o:="o:" p="p">
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh3>
Category Renungan
Thursday, 6 December 2012
Setelah sekian lama....
Kulupakan semua aturan.
Hanya hati yang kuandalkan tuk membiarkan dirimu memilikiku
Kesalahan yang terindah buatku adalah Mencintaimu.
Hijabku tak mampu menutupi arus.
salahkah aku..
Jika mencintaimu sebuah kesalahan dan kekeliruan...
Aku mohon jangan memintaku sekarang tuk menghapusnya.
Karena tuk saat ini aku tak mampu melakukannya.
Namun ijinkanlah aku utk menikamti dosa-dosa manis yang hadir
Dan yang kau beri disaat aku mencintai dengan hatiku...
Maafkan aku untuk seseorang disana...
karena aku telah jatuh cinta padamu,pesonamu memaksa aku tuk rasakan lembut kasihmu
Salahkah hadirnya cinta hinggapi perasaan kita dan biarkan semua ini berjalan apa adanya.
bersamamu telah kutemukan betapa takutku merasa inginkanmu selamanya...seutuhnya...
Thursday, 22 November 2012
Ya Allah...
Aku ingin cerita
Cerita tentang kegalauanku
Kegalauan akan kehidupanku saat ini
Kehidupan yang tak menentu arah
Arah yang yang telah Engkau Firmankan
Firmankan dalam sebuah Kitab SuciMu
Kitab Suci Al-qur'an dan Sunah RosulMu
Ya Allah...
Aku ingin mengadu
Mengadu tentang kelemahanku
Kelemahan akan ketidakberdayaanku saat ini
Ketidaberdayaan melawan hawa nafsuku
Hawa nafsu yang dipenuhi dengan kemaksiatan
Kemaksiatan yang selalu diulang penuh kesadaran
Kesadaran tanpa rasa ketakutan akan balasanMu
Ya Allah...
Aku ingin mengeluh
Mengeluh tentang mata hatiku
Mata hati yang menolak segala kelalaianku
Kelalaian akan ketidakkhusuanku
Khusu dalam mengingat AsmaMu
AsmaMu yang teramat Agung
Agung menjadi Rahmat bagi alam semesta
Ya Allah...
Aku ingin berbisik
Berbisik tentang pertaubatanku
Taubat segala kegundahanku
Kegundahan akan kesalahanku
Kesalahanku yang teramat menggunung
Menggunung selaksa ditumbuhi dosa-dosa
Dosa-dosa yang menghiasi ruhku
Ruhku yang dikemas dalam noda-noda jasadku
Ya Allah...
Aku ingin bertaubat
Taubat dari hati yang tiada batas
Batas ruang hampa dengan Arsyi
Arsyi singgasana KeMahaRajaanMu
Raja bagi Penyeru sekalian alam
Alam dunia dan AkheratMu
Akherat yang kelak penentuku
Penentu Syurga dan Neraka
Aamiin.....
Category Renungan
Sunday, 15 July 2012
Di pagi hari saat Zarina sedang asyik tidur terlelap ia mendengarkan Hpnya berdering ia segera mengangkat telepon tanpa nama di memori kartunya.
"Assalaamu'alaikum?"
"Wa'alaikumussalam. Ini Zarina?"
"iya saya sendiri"
"kamu jangan ngajak-ngajak anak saya Vinda main dan keluyuran malam-malam yah! lalu membawa anak lelaki-laki!
"astaghfirullah" lirihnya sambil memikirkan jawaban yang tepat seperti mendengar kilatan petir.
"kamu kalau mau pergi jangan bawa-bawa Vinda lagi!"
"Bu, siapa yang mengajak Vinda main? Vinda yang mengajak saya dan dia datang kesini membawa motornya sendiri. saya sendiri tidak bisa naik motor. Dan untuk apa saya mengajak Vinda keluar jalan-jalan dan membawa anak laki-laki. Saya sendiri tak pernah berbuat itu sebelumnya"
"Tapi Vinda itu kan anak pesantren dia tidak mungkin dan tidak pernah berbuat seperti itu kalau tidak ada yang mengajarkan!"
"ibu kenapa menuduh saya? tanyakan saja pada Vinda. Saya tidak pernah mengajak malah sebaliknya! Teman saya banyak bukan hanya dia!"
Tut...tut....tut.
Sambungan terputus Zarina meradang rasanya ia kebakaran jenggot antara sabar dan emosi yang tak bisa diatur oleh nafasnya sendiri. Kemudian Zarina melemparkan bantal ke lantai sambil memikirkan sesuatu.
Ia segera bercerita kepada sahabatnya yang malam itu juga keluar bersama-sama dan pulang pukul 9 malam.
Dina gadis kecil ini juga merasa keberatan ketika Zarina menceritakan tuduhan itu, Dina juga ikut marah dan tidak terima temannya di tuduh.
Lalu pagi harinya vinda mengirimkan pesan singkat
"Maafin aku yah teman-teman"
"tanpa merasa bersalah ia begitu saja meminta maaf dengan seenaknya" gerutu Zarina.
Kepercayaan Zarina memudar seketika, Zarina yakin betul jika ia akan menutup memori kelam yang membuat masa-masa remajanya itu membuatnya tertekan.
Ia bukan sudah berusaha menyimpulkan tentang perbuatan yang seharusnya ia katakan kepada sang ibu.
Sang ibu tak pernah tahu apa yang dilakukan sang anak dibelakangmu.
Dia memang baik, tapi dia sudah mengenal laki-laki bahkan sering bertemu.
usia yang belum genap 16 tahun itu membuat Zarina kian berhati-hati.
Diary Zarina,
Wahai ibu, bukan cerita di atas saja yang pernah ku dengar.
Wahai ibu, aku tahu aku ini anak yang masih lugu yang tak tahu menahu
Tapi apa kau percaya jika anakmu berkata dusta padaku?
Ibu, jika itu terjadi padaku, aku pasti tak tenang seumur hidup
Jika ibuku mengalami hal sebalikya.
Ibuku pasti akan memukuliku hingga memerah dan biru lebam disekujur tubuhku jika keadaannya aku malah menuduh orang lain
Tapi tidak denganmu ibu temanku,
Layangkanlah tuduhan itu terhadap putrimu dahulu sebelum engkau menuduhku,
Suara Zarina mungkin beberapa masalah kecil. Saya sendiri sering mendengar berita seperti ini. Terkadang ada anak orang kaya yang terlalu sombong membawa anak tetangganya bermain. Tapi anak orang kaya tersebut malah menuduh anak tetangganya yang miskin itu yang mengajak ke arah buruk.
Situasi pun genting, si anak miskin ini gusar dan hanya bisa berkaca-kaca dengan menahan air mata. Ia tak berani membela diri karena dirinya merasa menyesal bahkan merasakan sama-sama salah.
Tapi kenapa ibu seperti itu mengajari rasa ketidakadilan?
Mereka itu anak-anak kecil, anak-anak yang masih dibawah umur. Tidak seharusnya menghakimi bahkan memarahinya dengan sembarangan. Naluri sebagai ibu memang melindungi putra putrinya tapi bukan cara seperti ini mengajarkan kebaikan demi putrinya.
Nasehatilah dia, putra putrimu dulu sebelum berpikir untuk menasehati orang lain.
Jika kau menjadi ibu, Anakku menuduh orang lain apa yang harusnya kulakukan?
Menghakimi dan langsung menanyakan kepada anak orang lain sebagai tertuduhkah?
Apakah anak anda berkata jujur?
Saya yakin anak saya jujur. dia anak yang baik.
Tapi bukankah kita sebagai orang tua yang baik mampu menjadi contoh yang baik. Menasehati bukan menghakimi atau menuduh juga sepakat dengan sang putra putri?
"Berbuat baiklah pada orangtua kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbuat baik pada kalian." (HR.Thabrani)
“Wahai orang yang beriman, jika orang fasik membawa berita kepadamu maka periksalah.” (QS. al-Hujurat: 6
Allah berfirman, artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan prasangka, (karena) sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.”(QS. al-Hujurat:12)
Berterimakasihlah pada orang-orang yang telah melukai dan menyakitimu, karena mereka telah memberikan pelajaran yang paling berharga dalam hidupmu.
Bukan malah tidak terima lalu menghakimi dan membenci, bencilah sewajarnya jika ia memang patut dibenci. Tapi bencilah sifatnya bukan orangnya. Memang sulit jika diaplikasikan.
Tapi berusaha lebih baik itu dari hari kemarin adalah kemenangan luar biasa, bukanlah pengulangan yang tidak baik.
Yuk ajarkan kebaikan. Bukan keburukan.
Kita tidak tahu seberapa tinggi langit di atas sana, tetapi sudah selayaknyalah kita tahu seberapa TINGGI kita mampu menghargai orang yang kita cinta (Mutiara hati)
(catatan Annur)
Category Renungan
Thursday, 19 April 2012
Agar cinta itu benar-benar dapat menemukan kesejatiannya dan ketulusannya
Tanpa harus dibumbui oleh prasangka dan ego di dada
Ketika hatimu terluka tapi mampu untuk memaafkannya
Ketika hatimu menangis tapi mampu untuk tersenyum karenanya
Ketika hatimu bersumpah untuk setia walau ia telah mengkhianatimu
Ketika hatimu mampu membahagiakannya tanpa meminta balasan darinya
Ketika kamu tersenyum walau hatimu terluka
Ketika kamu mengalah meski pendapatmu benar
Ketika kamu mampu untuk memaafkannya tanpa ia pinta
Ketika engkau memberi apa yang paling engkau sukai
Ketika engkau mau menerima apa yang tidak kamu sukai darinya
Ketika engkau selalu mengharapkan kehadirannya
Ketika kejujuran selalu menghiasi setiap ucapanmu
Ketika kesetiaan menjadi tanda tangan cintamu
ketika perhatian adalah makanan keseharianmu
Category Renungan
Sunday, 19 February 2012
Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Sebenarnya setiap orang dari kita adalah SELEBRITIS..... :)
ϐukankah setiap hari Kita juga di shooting oleh 2 Malaikat, RAQIB & ATID mulai dari Bangun tidur sampai tidur kembali... Right?! ;)
Bayangkan...
Dokument film tersebut akan diputar ulang di bioskop AKHIRAT nanti tanpa SENSOR seeeeedikitpun !!
Dan hanya mereka yang berakting sesuai dengan SKENARIO AL-Qur'an & Hadits lah yang akan mendapatkan Reward PIALA SURGA AWARDS yang diberikan langsung oleh ΔƖƖΔH SWT.
Mau...??
Ayo kita bersama perbaiki acting dan sampaikan juga pesan ini buat Aktris &Aktor yang lain yaaa...?!
Selamat berjuang...
Semoga semua, kita dan orang2 tersayang juga mendapatkan PIALA SURGA AWARDS..... Do the best :)
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh
~GoresanPena~
Category Renungan
Wednesday, 8 February 2012
Kuantitas dan Kualitas Sahabat itu mana yang lebih penting yaa ?
3 comments Posted by cm at Wednesday, February 08, 2012Berapa banyak kamu punya teman?
Teman main dirumah? Teman di kampus dulu ? Teman di kantor ? Teman di komunitas ? belum lagi teman-teman di jejaring social.Okelah,kita hidup di dunia instan sekarang,yang mencari teman dengan gampang cukup 'klik ' add dan weisssss..check friend list kamu deh pasti hampir ribuan,bayangkan dengan jaman dulu waktu jaman masih korespondesi via sahabat pena.
Tapi berapa banyak kamu punya sahabat yang benar-benar bisa diajak sharing,diskusi,dan seiman untuk melakukan hal-hal konyol dan tertawa bersama.kalau saya sih bisa dihitung dengan jari.
Kuantitas dan kualitas sahabat itu mana yang lebih penting yaa ?
Punya sahabat akrab berarti bersiap juga untuk menerima konsekwensi,diajak susah,diajak fun,mengalami slek dengan geng lain,bahkan bersiap disingkirkan ketika ternyata kita tidak lagi sejalan.
Well...,itulah yang sedang saya alami sekarang.Ketika kita mulai menemukan chemistry bersahabat dengan satu orang,kesana-kemari hayuk,ngelakuin yang gokil-gokil asal tidak melanggar aturan,,hayuuuu,rating solider pun melesat naik begitu salah satu bermasalah.toleransi begitu tinggi..bla..bla...bla.
Tetapi ketika kita bersinggungan dengan satu hal,beda pendapat,egoistis,bahkan bertemu teman lain yang lebih mumpuni wuiiihhhh...nilai solidaritas,nilai kebersamaan,nilia toleransi pun terjun bebas,berkurang sedikit sedikit atau seperti nilai rupiah terhadap dollar yang kadang naik kadang turun alias angot-angotan.
Jadi sebenarnya nilai sahabat yang berkualitas tuh yang seperti apa?
Saya sendiri belum tahu.
Ada yang bisa ngasih tau
Goresan Pena
Category Renungan
Persahabatan sering berakhir dengan cinta
Tetapi cinta kadang berakhir BUKAN dengan persahabatan
Kita harus sedikit menyerupai satu sama lain
untuk mengerti satu sama lain
Tetapi kita harus sedikit berbeda
Untuk mencintai satu sama lain
Cinta yang belum matang berkata:
"Aku cinta kamu karena aku butuh kamu"
Cinta yang sudah matang berkata:
"Aku butuh kamu karena aku cinta kamu"
Jika kita mencintai seseorang
Berusahalan untuk tampil apa adanya
karena Cinta sejati selalu dapat
Menerima Kelebihan dan Kekurangan
Bahagialah bagi orang yang mengerti akan arti cinta,
Karena Cinta itu akan memberikan warna bagi kehidupannya
Cinta yang teramat besar kadang dapat membuat kita
tak bisa mencintai lagi
Setetes kebencian di dalam hati
Pasti akan membuahkan penderitaan
Tapi setetes cinta di dalam relung hati
akan membuahkan kebahagiaan sejati
Kalahkan Kemarahan dengan Cinta Kasih
Kalahkan Kejahatan dengan Kebajikan
Kalahkan kekikiran dengan Kemurahan Hati
Kalahkan Kesombongan dengan Kejujuran...
Category Renungan
Tuesday, 24 January 2012
Kalau ditanya berapa kali kita harus shalat dalam satu hari semua orang muslim termasuk saya menjawab lantang 5 waktu. Bahkan tanpa ditanya, dengan fasih kita menjawab maghrib, isya, shubuh, dzuhur dan ashar.
Esensi dari shalat menurut saya adalah kita bertemu Allah, menyatakan komitmen keimanan kita, berdoa memohon perlindungan, meminta rezeki yang berkah, memohon ampunan atas kesalahan yang kita buat dan meminta agar selalu dibimbing di jalan yang benar. Kegiatan luar biasa yang kita lakukan setidaknya 5 kali sehari.
Dalam shalat ada perkataan sangat indah, yang isinya seperti ini. "Sesungguhnya shalatku, nafasku, hidupku dan matiku hanya untukmu Allah."
Beberapa waktu lalu ada teman saya baru selesai shalat langsung buka netbook. Saat saya bilang." Weih hebat update terus nih blog nya." Dia menjawab sambil nyengir." Kagak gue lagi nyari video anggota dewan sama cewek "......"
"Sesungguhnya shalatku, nafasku, hidupku dan matiku hanya untukmu Allah."
Orang yang hidupnya hanya untuk Tuhan apakah akan mendownload video mesum?
Ada teman saya yang lain di tempat kerja sebelumnya, orang yang sangat rajin shalat. Sejauh yang saya lihat dia tidak pernah meninggalkan shalat satu kalipun. Suatu saat dia pernah ditegur oleh team leadernya karena tidak mem follow up permasalahan nasabah padahal dia sudah berjanji pada nasabah tersebut. Saya mendengar dia berkomitmen pada team leadernya bahwa dia akan segera menyelesaikan masalah itu. Saat dia duduk disebelah saya, dia berbisik," Sebenernya gue tadinya nggak akan memfollow up nasabah itu, abisnya nasabahnya galak, brengsek dan bloon." Saya tersenyum dan teringat ucapan indah....
"Sesungguhnya shalatku, nafasku, hidupku dan matiku hanya untukmu Allah."
Bukankah berbohong dan tidak menepati janji adalah hal yang tidak disukai Allah. Apakah orang yang matinya hanya untuk Allah akan melakukan hal yang dibenci Allah?
Ada cerita lucu ketika saya kuliah. Saat itu sahabat saya terlihat sangat buru buru ketika melakukan shalat. Saat membereskan sajadah dia berkata. "Gue lupa ngasih makan nyamuk Aedes sp." Teman saya yang lain mengingatkan. "Akhi, Inna shalati wanusuki wama yahya wama mati lillahi rabbil alamin."
"Sesungguhnya shalatku, nafasku, hidupku dan matiku hanya untukmu Allah."
Sehabat saya bengong," Bener juga yah, tapi udah tanggung." Ucapnya kemudian sambil ngacir ke Lab.
Orang yang berkata sesungguhnya nafasku hanya untukmu Allah, tapi tindakannya mengatakan ada yang lebih penting dari bertemu denganmu Allah yaitu ngasih makan nyamuk penelitian saya.
Apakah sahabat saya itu tidak membohongi Allah?
Dan saya sendiri hari ini baru melakukan shalat isya 15 menit yang lalu tepatnya jam 01.15 menit dini hari.
Shalat isya sebenarnya bisa dilakukan 6 jam sebelumnya, tetapi karena sibuk mendaftarkan situs ini di beberapa situs social bookmarking Indonesia, saya menundanya.
Lalu tanpa malu saya menghadap Allah dan berkata "Sesungguhnya shalatku, nafasku, hidupku dan matiku hanya untukmu Allah."
Luar biasa bukan.
Apakah kita akan selalu membohongi Allah yang maha tahu. Lalu tidak malukah kita saat kita berkata. "Ya Allah kenapa aku merasa rezekiku begitu jauh, cobaan untukku begitu berat padahal aku selalu shalat lima waktu."
Untung saja Allah Maha pemaaf, Maha pengasih dan penyayang. Kalau saya jadi Allah. Orang yang tukang bohong, selalu melanggar komitmen dan tidak punya malu seperti saya, mungkin sudah saya ceburkan ke samudra hindia. Tapi toh Allah malah memberikan waktu kepada saya untuk membuktikan bahwa saya adalah orang seperti yang saya ucapkan saat saya shalat. "Sesungguhnya shalatku, nafasku, hidupku dan matiku hanya untukmu Allah."
Pertanyaannya sampai kapan kita akan selalu membohongi Allah ?
Semoga tulisan ini bermanfaat
By Ardian
Category Renungan
Dari tadi pagi hujan mengguyur kota tanpa henti, udara yang biasanya sangat panas, hari ini terasa sangat dingin. Di jalanan hanya sesekali mobil yang lewat, hari ini hari libur membuat orang kota malas untuk keluar rumah.
Di perempatan jalan, Umar, seorang anak kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah, dia membiarkan tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia begitu erat melindungi koran dagangannya dengan lembaran plastik.
“Korannya bu !”seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan.
Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan kasihan, dalam hatinya dia merenung anak sekecil ini harus berhujan-hujan untuk menjual koran. Dikeluarkannya satu lembar dua puluh ribuan dari lipatan dompet dan membuka sedikit kaca mobil untuk mengulurkan lembaran uang.
“Mau koran yang mana bu?, tanya Umar dengan riang.
”Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi aku juga sudah baca”, jawab si ibu.
Si Umar kecil itu tampak terpaku, lalu diulurkan kembali uang dua puluh ribu yang dia terima, ”Terima kasih bu, saya menjual koran, kalau ibu mau beli koran silakan, tetapi kalau ibu memberikan secara cuma-cuma, mohon maaf saya tidak bisa menerimanya”, Umar berkata dengan muka penuh ketulusan.
Dengan geram si ibu menerima kembali pemberiannya, raut mukanya tampak kesal, dengan cepat dinaikkannya kaca mobil. Dari dalam mobil dia menggerutu ”Udah miskin sombong!”. Kakinya menginjak pedal gas karena lampu menunjukkan warna hijau. Meninggalkan Umar yang termenung penuh tanda tanya.Umar berlari lagi ke pinggir, dia mencoba merapatkan tubuhnya dengan dinding ruko tempatnya berteduh.Tangan kecilnya sesekali mengusap muka untuk menghilangkan butir-butir air yang masih menempel. Sambil termenung dia menatap nanar rintik-rintik hujan di depannya, ”Ya Tuhan, hari ini belum satupun koranku yang laku”, gumamnya lemah.
Hari beranjak sore namun hujan belum juga reda, Umar masih saja duduk berteduh di emperan ruko, sesekali tampak tangannya memegangi perut yang sudah mulai lapar.Tiba-tiba didepannya sebuah mobil berhenti, seorang bapak dengan bersungut-sungut turun dari mobil menuju tempat sampah,”Tukang gorengan sialan, minyak kaya gini bisa bikin batuk”, dengan penuh kebencian dicampakkannya satu plastik gorengan ke dalam tong sampah, dan beranjak kembali masuk ke mobil. Umar dengan langkah cepat menghampiri laki-laki yang ada di mobil. ”Mohon maaf pak, bolehkah saya mengambil makanan yang baru saja bapak buang untuk saya makan”, pinta Umar dengan penuh harap. Pria itu tertegun, luar biasa anak kecil di depannya. Harusnya dia bisa saja mengambilnya dari tong sampah tanpa harus meminta ijin. Muncul perasaan belas kasihan dari dalam hatinya.
“Nak, bapak bisa membelikan kamu makanan yang baru, kalau kamu mau”
”Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu rasanya sudah cukup bagi saya, boleh khan pak?, tanya Umar sekali lagi.”Bbbbbooolehh”, jawab pria tersebut dengan tertegun. Umar berlari riang menuju tong sampah, dengan wajah sangat bahagia dia mulai makan gorengan, sesekali dia tersenyum melihat laki-laki yang dari tadi masih memandanginya.
Dari dalam mobil sang bapak memandangi terus Umar yang sedang makan. Dengan perasaan berkecamuk di dekatinya Umar.
”Nak, bolehkah bapak bertanya, kenapa kamu harus meminta ijinku untuk mengambil makanan yang sudah aku buang?, dengan lembut pria itu bertanya dan menatap wajah anak kecil di depannya dengan penuh perasaan kasihan.”Karena saya melihat bapak yang membuangnya, saya akan merasakan enaknya makanan halal ini kalau saya bisa meminta ijin kepada pemiliknya, meskipun buat bapak mungkin sudah tidak berharga, tapi bagi saya makanan ini sangat berharga, dan saya pantas untuk meminta ijin memakannya ”, jawab si anak sambil membersihkan bibirnya dari sisa minyak goreng.
Pria itu sejenak terdiam, dalam batinnya berkata, anak ini sangat luar biasa. ”Satu lagi nak, aku kasihan melihatmu, aku lihat kamu basah dan kedinginan, aku ingin membelikanmu makanan lain yang lebih layak, tetapi mengapa kamu menolaknya”.Si anak kecil tersenyum dengan manis,
”Maaf pak, bukan maksud saya menolak rejeki dari Bapak. Buat saya makan sekantong gorengan hari ini sudah lebih dari cukup. Kalau saya mencampakkan gorengan ini dan menerima tawaran makanan yang lain yang menurut Bapak lebih layak, maka sekantong gorengan itu menjadi mubazir, basah oleh air hujan dan hanya akan jadi makanan tikus.”
”Tapi bukankah kamu mensia-siakan peluang untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih nikmat dengan makan di restoran di mana aku yang akan mentraktirnya”, ujar sang laki-laki dengan nada agak tinggi karena merasa anak di depannya berfikir keliru.
Umar menatap wajah laki-laki didepannya dengan tatapan yang sangat teduh,”Bapak!, saya sudah sangat bersyukur atas berkah sekantong gorengan hari ini. Saya lapar dan bapak mengijinkan saya memakannya”, Umar memperbaiki posisi duduknya dan berkata kembali, ”Dan saya merasa berbahagia, bukankah bahagia adalah bersyukur dan merasa cukup atas anugerah hari ini, bukan menikmati sesuatu yang nikmat dan hebat hari ini tetapi menimbulkan keinginan dan kedahagaan untuk mendapatkannya kembali di kemudian hari.”Umar berhenti berbicara sebentar, lalu diciumnya tangan laki-laki di depannya untuk berpamitan. Dengan suara lirih dan tulus Umar melanjutkan kembali,”Kalau hari ini saya makan di restoran dan menikmati kelezatannya dan keesokan harinya saya menginginkannya kembali sementara bapak tidak lagi mentraktir saya, maka saya sangat khawatir apakah saya masih bisa merasakan kebahagiaannya”.
Pria tersebut masih saja terpana, dia mengamati anak kecil di depannya yang sedang sibuk merapikan koran dan kemudian berpamitan pergi.”Ternyata bukan dia yang harus dikasihani, Harusnya aku yang layak dikasihani, karena aku jarang bisa berdamai dengan hari ini”
Category Renungan
Thursday, 22 December 2011
Anakku ...ketika aku semakin tua,
Aku berharap kamu memahami,dan memiliki kesabaran untukku
Saat ketika aku memecahkan piring, atau menumpahkan sup di atas meja
Lantaran penglihatanku yang kian pudar, aku berharap kamu tidak memarahiku
Ketahuilah orang tua sepertiku sensitif jiwanya, selalu merasa bersalah jika kamu membentak
Ketika pendengaranku semakin hilang
Dan aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan
Aku berharap kamu tidak memanggilku TULI.
Mohon diulangi apa yang kamu katakan atau tuliskan untukku
Maaf, anakku . . aku semakin tua
Ketika lututku mulai lemah, aku berharap kau miliki kesabaran
Untuk membantuku berdiri, sebagaimana aku selalu membantumu,
Sewaktu kamu masih kecil dan bertatih
Aku mohon jangan pernah bosan denganku, ketika aku terus mengulangi apa yang aku katakan umpama kaset yang rusak,
Aku berharap kamu terus mendengar bicaraku
Jangan sesekali mengejekku atau bosan tuk mendengarkan suaraku ...
Apakah kamu ingat waktu kamu masih kecil dan kamu inginkan sebuah balon ???
Kamu ulangi permintaanmu berulang-ulang kali, sehingga kamu dapat apa yang kamu inginkan
Maafkan juga bauku ..bau insan yang sudah tua
Aku mohon jangan memaksaku untuk mandi..tubuhku lemah sekali
Orang tua sepertiku mudah sakit kerana kedinginan
Aku jua berharap aku tidak jijik di matamu
Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil ???
Aku selalu mengejarmu kerana kamu enggan mandi,
Anakku, aku menagih kesabaranmu terhadapku ...
Aku harap kamu bersabar ketika aku selalu lemah ...lantaran fitrah seorang tua ..
Kamu akan pasti mengerti jika kamu melaluinya kelak
Jika kamu memiliki waktu luang, aku berharap kita bisa berbicara
Walau hanya beberapa minit
Kerana aku kesunyian sepanjang waktuku, tiada teman untuk berbicara,
Aku tahu kesibukan kerjamu
Jika kamu tidak berminat dengan bicaraku sekalipun
Aku mohon luangkan waktumu bersamaku ...
Apakah kamu ingat waktu kamu masih kecil ...
Aku selalu mendengar apapun bicaramu, tentang segala alat mainanmu ...
Maaf, ketika saatnya tiba ...saat aku hanya terbaring kesakitan
Ketika aku tidak mampu mengurus diriku
Aku berharap kamu memiliki kesabaran untuk menjagaku..
Untuk saat-saat terakhir dalam hidupku
Aku mungkin tidak akan hidup lebih lama ...
Ketika kematian menjemputku, aku berharap kamu selalu bersamaku,
Dan memberikan kekuatan untukku menghadapinya
Dan jangan kamu bimbang wahai anakku ...
Pada Sang Pencipta ...aku akan memohon Kepada-Nya ..
Agar sentiasa memberkatimu
Kami menyayangimu, Terima kasih atas segala perhatianmu ...
Kami selalu mencintaimu sepenuh kasih sayang yang mendalam
Dedicate 4 my ♥♥ Wisnu, Pangestu, Afif ♥♥
my nephew abang salif , ade'hamem
~milis sebelah
Category Renungan
Wednesday, 2 November 2011
Inspiring story...
Suatu hari saya naik angkutan kota dari Darmaga menuju Terminal Baranangsiang, Bogor.
Pengemudi angkot itu seorang anak muda. Didlm angkot duduk 7 penumpang, termasuk saya. Masih ada 5 kursi yg blm terisi.
Di tengah jalan, angkot2 saling menyalip utk berebut penumpang. Tapi ada pemandangan aneh. Di depan angkot yg kami tumpangi, ada seorang ibu dengan 3 org anaknya berdiri di tepi jalan. Tiap ada angkot yg berhenti dihadapannya, dari jauh kami bisa melihat si ibu bicara kepada supir angkot, lalu angkot itu melaju kembali.
Kejadian ini terulang beberapa kali.
Ketika angkot yg kami tumpangi berhenti, si ibu bertanya "Dik, lewat terminal bis ya?", supir tentu menjawab "ya".
Yang aneh ibu tidak segera naik. Ia bilang "tapi saya dan ke 3 anak saya tdk punya ongkos." Sambil tersenyum, supir itu menjawab "gak papa Bu, naik saja", ketika si Ibu tampak ragu2, supir mengulangi perkataannya "ayo bu, naik saja, tidak apa-apa "
Saya terpesona dgn kebaikan Supir angkot yg masih muda itu, di saat jam sibuk dan angkot lain saling berlomba utk mncari penumpang, tapi si Supir muda ini merelakan 4 kursi penumpangnya utk ibu & anak2nya.
Ketika sampai di terminal bis, 4 penumpang gratisan ini turun. Si Ibu mengucapkan terima kasih kepada Supir.
Di belakang ibu itu, seorang penumpang pria turun lalu membayar dgn uang Rp 20rb.
Ketika supir hendak memberi kembalian (ongkos angkot hanya Rp.4rb)
Pria ini bilang bahwa uang itu utk ongkos dirinya & 4 penumpang gratisan tadi. "Terus jadi orang baik ya, Dik " kata pria tsb kepada sopir angkot muda itu
Sore itu saya benar2 dibuat kagum dgn kebaikan2 kecil yg saya lihat. Seorang Ibu miskin yg jujur, seorang Supir yg baik hati, dan seorang penumpang yg budiman.
Mereka saling mendukung utk kebaikan... :)
Category Renungan
Wednesday, 19 October 2011
KISAH INSPIRATIF UNTUK PARA ISTRI DAN SUAMI
Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
DPW PKS DIY
Category Renungan
Wednesday, 12 October 2011
Terima kasih untuk hal-hal yang ‘gak enak’, Ya Allah…
karena mereka malah membuatku semakin bersyukur atas hal kecil dan sederhana yang mungkin terlupa…
Terima kasih untuk kejadian yang menyedihkan,Ya Allah…
karena oleh mereka aku jadi makin dekat pada-Mu dan mampu menghargai hal-hal yang membahagiakan…
Terima kasih untuk setiap kegagalan,Ya Allah…
karena dari mereka aku belajar menghargai kesuksesan yang Kau izinkan mampir di hidupku…
Terima kasih untuk setiap kehilangan, Ya Allah…
karena aku semakin sadar bahwa hidup ini sementara yang abadi hanya diri-Mu
Terima kasih untuk setiap kemalangan, Ya Allah…
karena dari situlah aku belajar berdiri tegar tidak selalu mudah namun bisa terjadi dengan bimbingan-Mu.
Terima kasih untuk setiap kekuatiran,Ya Allah….
karena dengan demikian, aku datang dan membawa mereka pada-Mu sambil menyerahkan kehidupanku seutuhnya ke dalam tangan-Mu
Terima kasih untuk setiap kesukaran dan permasalahan,Ya Allah…
karena dengan adanya mereka aku belajar berusaha mencari solusi kreatif sekaligus berserah pada-Mu…
Terima kasih untuk semua yang ‘gak enak’ itu Ya Allah…
karena hidup bukanlah melulu kemapanan ataupun kenyamanan
namun juga proses pembelajaran…
Terima kasih,Ya Allah untuk itu semua…
karena kutahu, Kaubertujuan agar aku terus naik kelas dalam sekolah kehidupan bersama-Mu.
Category Renungan
Thursday, 6 October 2011
Sayangku Reza,
Kemarin malam kamu bertanya pada ibu, "Apakah berat menjadi seorang ibu?"
Kamu lihat sendiri, malam itu ibu harus buru-buru menyiapkan makan di meja, dimana satu telinga mendengarkanmu, sementara telinga yang lain menangkap suara adik-adikmu yang berisik sedang berdebat di gudang.
Waktu itu ibu menjawab, "Kadang-kadang ya, tetapi semuanya berharga. Sekarang pergi dan cari mainan sendiri." Jawaban ibu terlihat buru-buru dan sembarangan, tetapi kamu cukup puas mendengarnya.
"Bagus," kamu berkata. "Karena saya ingin menjadi seperti ibu saat besar nanti." Dan dengan senyum lebar kamu menghilang untuk bergabung dengan suara ribut adik-adikmu di gudang.
Setelah kamu tidur, ibu memikirkan lagi pertanyaanmu dan jawaban yang ibu katakan. Memang benar, menjadi seorang ibu adalah pekerjaan yang berat. Kadang-kadang sangat berat.
Ibu hanya punya waktu beberapa tahun (walaupun kadang terasa seperti selamanya) untuk mengajarimu menyeberang jalan dan memakai helm saat bersepeda. Mengajar untuk bisa mengucapkan "terima kasih" atau menjawab telpon dengan benar.
Menjadi seorang ibu berarti menjadi seorang pelindung, pengelola, wasit, kepala juru masak dan pencuci botol. Daftarnya bisa sangat panjang dan tanggung jawabnya seolah tidak ada habisnya. Tapi tiap hari ibu harus membuat pilihan terhadap semuanya itu: seharian penuh dengan rintangan atau menyingkirkan semua beban itu dengan menganggapnya sebagai suatu kesempatan yang menantang.
Sangat mudah untuk melihat semua rintangan itu.
Pegangan tangga penuh bekas tangan. Noda di karpet. Jaring laba-laba di sudut rumah. Boneka berdebu di bawah tempat tidur. Mainan yang berserakan. Sampah yang bau. Hidung ingusan. Rambut gimbal. Kaus kaki bolong. Makanan basi.
Jika masalah itu melimpah, hari-hari ibu sangat berat dan penuh air mata. Pada hari itu ibu memakai baju yang lusuh, karena jika tidak terkena muntahan si kecil, kamu mengoleskan tangan kotormu di baju ibu. Akhirnya setelah sepanjang hari yang melelahkan ibu mencoba tidur singkat di tengah malam, tetapi kadang masih terdengar suara teriakan dari kamar kalian, "Bu, kasurnya basah. Rayhan ngompol."
Akan tetapi jika ibu memandang itu semua sebagai suatu kesempatan, maka segala sesuatu menjadi terasa indah dan menyenangkan.
Tepukan di punggung atau kepala kalian menyandar di bahu ibu. Tenda yang kalian buat di ruang makan. Pengumuman bahwa pameran lukisan dibuka dengan pajangan gambar tangan anak-anak umur empat tahun. Diskusi rahasia di gudang untuk membuat taktik bagaimana caranya memata-matai ibu. Sentuhan di tangan ibu di tengah malam dan suara kalian berkata, "Apa malam ini saya bisa tidur di sini bersama ibu?"
Ibu suka tertawa saat melihat mulutmu belepotan krim coklat, karena ibu tahu kamu paling suka kue brownis yang baru saja diangkat dari oven. Ibu juga bisa tersenyum saat menemukan sarung tangan yang basah kuyup, karena ibu tahu bahwa kamu sangat bangga dengan benteng salju yang kalian buat di halaman belakang.
Hari-hari ibu penuh dengan kejutan dan hal-hal yang menantang. Ibu sering berbicara sendiri untuk membangkitkan semangat: Ya, ibu bisa berjaga tengah malam sekali lagi untuk mengurus adikmu yang masih bayi - dia baunya sedap. Ya ibu bisa membaca tulisan 'Kucing di kepala' sekali lagi - saat dia tertidur di gendongan ibu. Ya - ibu bisa mendengar sekali lagi pertengkaran kalian tanpa kehilangan kesabaran karena ibu tahu suatu hari kalian akan menjadi sahabat yang baik satu dengan yang lain.
Kemarin malam, setelah makan selesai, kalian bertiga segera berlari ke ruang keluarga dengan rencana yang hebat untuk membuat sebuah benteng terbesar dari Lego. Kalian begitu saja melupakan pertengkaran selama makan malam.
Kemudian dari balik bungkusan koran kalian membawa potongan kayu bakar ke dalam rumah. "Kita perlu banyak kayu bakar," kamu memberi tahu ibu, "Karena kami akan membuat api unggun yang sangat besar." Kemudian kamu masukkan semuanya ke perapian dan mulai menyanyi di depan adik-adikmu.
Ibu mendengar suara gemeretak kayu yang terbakar, dan debu beterbangan dari nyala api yang keluar dari lubang perapian. Melihat itu ibu tahu bahwa sukacita menjadi seorang ibu jauh lebih besar dari tantangan yang harus ibu hadapi.
Apakah berat menjadi seorang ibu? Kadang-kadang.
Apakah menyenangkan? Selalu.
Sayang kalian selalu,
Ibu
Source : unknown/mail archive
Category Renungan
Saturday, 13 August 2011
Jika membahas tentang cinta pasti sabar harus di ikutsertakan…
tak ada cinta yang tak butuh ke sabaran…
tak ada cinta yang tak membutuhkan ke ikhlasan dan perjuangan..
bukan pihak ke 3-lah (jika ada) yang menjadi musuh terbesar dalam hubungan 2 insan manusia tetapi melawan diri sendirilah yang butuh perjuangan dan di sertai dengan kesabaran..
cinta tanpa kesabaran tak akan pernah ada.. jikalau ada tak akan pernah bertahan lama.. itu benar..
saling percaya adalah salah satu bentuk kesabaran.. tanpa adanya rasa sabar tak akan ada percaya..lidah itu tak bertulang! logika itu tak berujung! semua ada kemungkinannya
saling memahami butuh kesabaran… tak akan mungkin ada perasaan saling memahami tanpa di dasari oleh kesabaran.. karena tanpa kesabaran yang ada hanya salah paham belaka..
saling menyanyangi mengajari cara bagimana memposisikan kesabaran di atas segala galanya…
tanpa kesabaran cinta tak akan hadir..
tanpa kesabaran cinta hanya nafsu belaka..
tanpa kesabaran.. cinta hanya akan menjadi penyakit…
maka.. jika kau menginginkan cinta.. bersabarlah.. cinta akan datang padamu tanpa dicari..
SubhanAllah…
~kompasiana~
Category Renungan
Saturday, 23 July 2011
Hypocrite...
Ketika apa yang kamu ucapkan, gak sama dengan yang kamu pikirkan.. dengan yang kamu rasakan..
Hypocrite..
Ketika kamu gak tau, mana yang harus dilakukan; Menyembunyikan suatu kebenaran atau berkoar-koar ngasih tau orang-orang tentang apa yang benar-benar kamu rasain, kamu pikirin..
Hypocrite..
Ketika kamu menyembunyikan kebenaran, tapi hati kamu nyesek, sakit, karena cuma kamu yang tau.. kamu aja yang ngerasain..
Hypocrite..
Ketika hati kamu menampung semua kebenaran tanpa ada seorangpun yang tau, selain kamu..
Hypocrite..
Ketika kamu berusaha bilang dan meyakinkan dirimu, "Aku gak cinta sama dia! Aku gak sayang dia!"
Padahal hatimu sendiri yang udah bilang, kamu sayang dia.. kamu suka dia.. kamu dan dia ada di benak kamu..
Kemunafikan susah ditepis.. Dihilangkan? Tidak bisa.
Memang gak semua hal bisa 'dilepas'.
Apalagi bila kebenaran itu memang sulit diterima.
Kadang malu untuk mendekati tabir kebenaran.
Kadang takut membuka pintu kebenaran.
Sulit untuk bilang dan mengungkapkan.
Dalamnya lautan dapat diukur, dalamnya hati siapa yang tau?
Biarkan jadi rahasia alam. Bagian dari misteri cinta.
Kalau jodoh, kita pasti ketemu lagi. Atau bahkan mungkin bersatu.
Untukmu sobat, saya punya saran...
Secepatnya ungkapin. Jangan terlalu lama jadi hypocrite.
Sayangnya, untukku, ini hal yang sulit..
Rahasia dan misteri ini, cukup saya dan Tuhan yang tau.
Berikan saya waktu sebentar...
...untuk jadi seorang hypocrite.
~CurahanHati~
Category Renungan
Cinta adalah ketika ayah dan ibu saling bahu-membahu untuk kelangsungan aku hidup..
Cinta adalah ketika perjuangan berbuah senyum di bibirku, kamu dan orang lain..
Cinta adalah ketika jasmani "tak terlihat" dan rohani memancarkan keindahannya..
Cinta adalah ketika semua berubah dengan mudah..
Cinta adalah ketika semua hal kamu hadapi dengan ceria..
Cinta adalah ketika panasnya api, dinginnya air, kencangnya angin dan kuatnya goncangan di bumi tak terasa lagi di tubuh..
Cinta adalah ketika kamu jadi pintar merangkai kata..
Cinta adalah ketika kebahagian datang pula bersama kegetiran..
Cinta adalah ketika kamu mau menemani dia di saat apapun..
Cinta adalah ketika sebuah lagu tercipta, sebuah puisi dibuat, sebuah gambar terlukis indah..
Cinta adalah ketika kamu mau menemani dia kapanpun, dimanapun, bagaimanapun..
Cinta adalah ketika sakit itu terasa menyenangkan..
Cinta adalah ketika semua orang tersenyum bahagia..
Cinta adalah ketika luka sembuh seketika..
Cinta adalah ketika pelangi muncul sehabis badai..
Cinta adalah ketika alam hidup serasi dengan makhluk hidup dalam harmoni..
Cinta adalah ketika namamu dan nama dia terukir, dimanapun itu, entar di hatimu atau hanya di sebongkah kayu..
Cinta adalah ketika ayah mau lelah bekerja untuk aku makan tiap harinya..
Cinta adalah ketika ibu masih tersenyum melihat aku yang nakal..
Cinta adalah rasa yang random, abstrak, absurd, dan macem-macem..
Cinta adalah virus. Tak bisa di bunuh, tak bisa di hilangkan, mudah menyebar antar manusia..
Cinta adalah ilmu yang akan membawamu ke arah yang jauh lebih mature, lebih dewasa..
Cinta adalah ketika gelap itu terang..
Cinta adalah ketika perkelahian diakhiri dengan pelukan kasih sayang..
Cinta adalah seni. Keindahan yang sulit dilukiskan, kegetiran yang sulit dilagukan, kegalauan yang sulit diukir..
Cinta adalah kehangatan..
Cinta adalah awal dari adanya aku, kamu dan semua orang..
Cinta awal dari kontak fisik yang lebih dari sekedar nikmat..
Cinta adalah ketika satu tatapan darinya memiliki berjuta makna..
Cinta adalah ketika waktu bisa terasa cepat, bisa pula terasa lambat..
Cinta adalah bentuk rasa syukur manusia kepada Allah SWT..
Cinta adalah penghancur sekat pemisah..
Cinta adalah bunga diantara duri-duri dan semak belukar, seperti mawar..
Cinta adalah kelelahan tak berujung, namun akan tetap di lakukan..
Cinta adalah ekstasi, efeknya euforia, suka bicara sendiri dan ketagihan..
Cinta adalah kebersamaan, solidaritas, kehangatan antara lebih dari seorang manusia..
Cinta adalah ketika kawan-kawanku menangis bersamaku, tertawa bersamaku, takut bersamaku dan berani pula bersamaku..
Cinta adalah ketika perbedaan melebur jadi satu..
Cinta adalah ketika rasa senang, berubah jadi sakit, berakhir jadi bahagia..
Cinta adalah ketika suara hati menuntunmu ke arah yang lebih baik..
Cinta adalah ketika sabar menjadi sebuah rutinitas..
Cinta adalah ketika kamu menerima kekurangan dan kelebihan..
Cinta adalah rasa yang dapat dirasakan antar siapa saja..
Cinta adalah dusta yang gagal, mau semunafik apa kamu akan tetap cinta!
Cinta adalah ketika Google-pun tak tau cara untuk menyelesaikan masalah-masalahnya..
Cinta adalah kerumitan rasa yang sulit ditepis..
Cinta adalah ketika sebuah suara dapat membuatmu bergetar..
Cinta adalah ketika tatapan mata menjadi senapan berisi peluru bius..
Cinta adalah sesuatu yang dapat membuat kamu berlebihan..
Cinta adalah ketika pengalaman dan pengamatan tidak dibutuhkan..
Cinta adalah ketika nyeri ditubuh hilang seketika..
Cinta adalah ketika suka, sayang, nafsu dan kasih berpadu menampilkan sebuah harmonisasi dinamis..
Cinta adalah teknologi canggih yang membantu jutaan manusia di bumi..
Cinta adalah ketika perputaran roda kehidupan bisa dengan tegar kau hadapi..
Cinta adalah ketika batas hancur di matamu..
Cinta adalah ketika mimpi yang kamu percayai dapat kamu wujudkan benar-benar kau wujudkan..
Cinta adalah ketika kata, angka dan logika tidak cukup kuat untuk menjelaskannya..
Cinta adalah ketika semua hal itu mungkin..
Cinta adalah ketika kebahagiaan dapat kamu sebarkan..
Cinta adalah hak manusia, kewajiban manusia dan perasaan natural manusia..
Cinta adalah ketika jabatan tak nampak di mata..
Cinta adalah ketika kau tak bisa melupakan suatu keindahan luar biasa..
Cinta adalah ketika gravitasi bernilai 0
Cinta adalah ketika kamu tersenyum dengan ceria dan sangat semangat..
Cinta adalah makanan, minuman, sandang, tempat berteduh, pokoknya sebuah kebutuhan..
Cinta adalah sesuatu yang tidak dapat terdefinisi, tidak ada definisi cinta!
Cinta adalah ketika kamu merasa tulisan ini benar, sekaligus salah..
Cinta adalah ketika 5000
karakter tidak cukup banyak untuk menjelaskannya..
Cinta adalah umum, universal, kebebasan yang melingkupi semuanya..
Cinta adalah ketika kamu membaca tulisan ini semua yang ada dipikiranmu hanya dia...
milis
Category Renungan
Friday, 1 July 2011
Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.~ Mahatma Ghandi,
Allah memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Allah hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Allah telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.
Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi,” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?”. Jawab titis air mata kedua tu,” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu saja.”
Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.
Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.
Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.
Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.
Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.
Mungkin Allah menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Hamka
Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.
Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.
Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping. Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.
Allah ciptakan 100 bagian kasih sayang.
99 disimpan disisinya dan hanya 1 bagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya karena takut anaknya terpijak.
Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.
Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.
Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta !
Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.
Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.~ Hamka
Kata bijak cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.
Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Allah yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.
Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.
Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah.Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh. Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.(Dale Carnagie)
Category Renungan






