Pages

Tuesday, 2 November 2010



Pernahkah terlintas dalam benak Anda mengapa manusia mempunyai dua buah mata yang posisinya di wajah seperti yang kita miliki saat ini? Mengapa tidak disamping layaknya kedua telinga kita, atau dibelakang kepala? Tentu saja dengan keterbatasan akal dan pikiran manusia kita tidak akan dapat mencari tahu jawabannya, karena itu semua adalah rahasia dari Allah SWT yang Maha Agung. Sewaktu orang tua kita mengandung tanpa mereka minta kepada Allah SWT, secara otomatis kedua bola mata akan berada diwajah kita dan kedua telinga kita akan berada disamping kepala. Kita hanya bisa menerka apa maksud dibalik pemberian Allah tersebut.


Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, karena kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita. Kita tidak dapat merubah apa yang telah lalu. Masa lalu yang kelam hanya akan menjadi kerikil didalam sepatu yang akan melukai hati dan perasaan bila diingat-ingat kembali dan hanya akan menimbulkan penyesalan. Masa lalu yang indah merupakan keberhasilan kita dalam menjalani kehidupan untuk menatap masa depan.


Kita dilahirkan dengan dua buah telinga di kanan dan di kiri, untuk bisa mengumpulkan segala informasi baik pujian ataupun kritik, dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah. Tidak perduli dari mana datangnya suara, dari atas, dari bawah, samping kiri, samping kanan suara akan tertangkap oleh kedua telinga yang mencerminkan keseimbangan dalam menerima. Bila kita berani mengkritik seseorang maka harus dengan jiwa besar pula menerima kritikan dari orang lain. Apa yang kita anggap berhasil belum tentu orang lain akan menganggapnya sebagai suatu keberhasilan. Suara pujian dari orang jangan membuat kita menjadi besar kepala dan terlena akan kesuksesan, dan sebaliknya cacian jangan membuat kita menjadi murka dan patah semangat dalam mencari kebenaran.


Kita lahir dengan dua mata dan dua telinga, tapi kita hanya diberi satu buah mulut. Walaupun hanya satu buah, akan tetapi mulut dapat menyebakan banyak hal, bisa kebaikan bisa pula kejahatan,bisa menguntungkan dan bisa pula merugikan, mulut bisa membunuh, dapat membuat orang yang benar menjadi salah demikian pula sebaliknya. Tidaklah salah bila ada pepatah yang menyatakan mulutmu harimaumu, maka ingatlah, bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya. Dengan lisan kita dunia bisa hancur dan dengan lisan kita pulalah dunia ini akan makmur.


Kita lahir hanya dengan sebuah hati jauh di dalam tulang iga kita. Bila hati sudah disakiti, sekecil apapun, perkaranya bisa menghilangkan nyawa orang sekalipun. Hati dapat merespon rasa cinta dan rasa benci. Jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintainya. Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemukan cinta yang jauh lebih indah. Penolakan akan terasa sangat pahit dan menyakitkan di hati.



Kedua kaki kita tidak akan pernah protes untuk di ajak berjalan, walaupun ke tempat maksiat sekalipun, menginjak-injak hak orang lain. Begitu juga dengan kedua belah tangan ini, mereka tidak pernah menolak sewaktu diperintahkan untuk mengambil apa yang bukan haknya.


Tetapi jangan lupakan suatu hal, sekecil apapun yang pernah kita lakukan tidak akan pernah luput dari pengamatan dan catatan Allah SWT. dan catatan tersebut tidak pernah salah. Didunia memang anggota tubuh kita tidak pernah melakukan protes bila diminta melakukan sesuatu. Tetapi anggota tubuh akan bersaksi dihadapan Allah untuk melaporkan dan membenarkan apa yang telah pernah kita lakukan semasa didunia.


Ya Allah ya Rob, Ampunkanlah dosa-dosa kami, lindungilah kami selalu dari segala perbuatan tercela, dari segala perbuatan yang Engkau laknat, berikanlah kekuatan dan bimbinglah kami untuk mempergunakan anggota tubuh kami ini dalam kebaikan, dan di akherat nanti kami mohon jangan sampai anggota tubuh ini berbicara tentang keburukan yang telah kami lakukan yang dapat mengurangi timbangan pahala kami ya Allah…

Detik demi detik dari masa yang berlalu
akan terus berganti waktu
Kisah demi kisah yang telah pergi
akan tetap hilang dan tak kan kembali

Matahari yang ada di siang ini
esok kan berbeda tak terulang lagi
Rembulan yang ada di malam hari
esok pun kan berganti
Saat ada akan terlupa
ketika berlalu datanglah rindu
Tiada sadar jiwa-jiwa yang alpa
tentang nilai dan harga
ketika segalanya hadir di depan mata
Tersadarlah jiwa-jiwa yang merugi
dengan penyesalan diri
ketika segalanya hilang pergi
Nilai dan harga yang terlupa
harus ditebus saat telah sirna
dengan penyesalan dan harapan sia-sia
bilakah kembali terulang di depan mata
Sumber ; Pustaka Islam



Anakku, hari ini aku sangat bersyukur dapat bertemu denganmu kembali dari pembaringan yang panjang, lelah dari peraduan yang tentu arah. Sesaat kau tampak tersenyum tanpa gundah gulana, indahnya bersamamu.


Anakku, hari ini aku ingin kembali menuangkan cerita untukmu. Cerita tentang sepenggal hidup yang akan kau toreh nanti. Hidup yang akan kau lalui belum tentu kau ketahui, namun perlu kau ingat bahwa perjalanan ini penuh kerumitan, duka yang mendalam, meski hal itu tak mesti engkau lewati.


Anakku, aku saat ini berdiri disampingmu tak selamanya akan mendampingimu, tapi ingatlah akan kasih sayangku padamu, meski aku tak akan pernah berharap belas kasihan darimu.


Anakku, saat aku masih remaja, aku pernah meratap menghadapi kehidupan ini, terlunta-lunta dan terseret-seret pada kenyataan yang tak bersahabat, namun aku tidak patah semangat, atau mencurigai Allah yang bermuka garang, apalagi bertengkar dengan-Nya.


Anakku sayang, besar harapanku untuk kejayaanmu kelak, agar kehadiranmu pada ruang dan waktu tiada pernah sepi atau dianggap sepi oleh kehidupan. Aku berharap engkau mampu menahkodai kapal kecil ini agar tak karam hingga ke dasarnya, perkuatkanlah dirimu dengan tenaga tauhid dan 
bijaksanalah dalam menghadang ombak yang datang karena kebijakan adalah elok dan menawan.


Anakku, buatlah dunia menangis karena ulahmu yang tegas dan tak kenal belas kasihan pada kejahatan dunia, lalu permainkan dia sekehendakmu sebelum engkau dipermainkan dan dijadikan seonggok sampah usang yang tiada berguna bagi kehidupan.


Anakku, jangan pernah engkau membiarkan kami menanggung malu, karena perilakumu yang 'haram', kajilah selalu gerak daya hidupmu, kenali gejolak dan sikapmu yang silih berganti, ingatlah bahwa
"Hidup yang tak dikaji adalah hidup yang tak perlu dihidupi dan dijalani......."


Anakku, ini adalah kisah nyata yang patut engkau camkan, jangan pernah engkau lakukan dan ingatlah, hidup ini tidak ada yang bisa menebak, namun hal ini dapat menjadi pelajaran bagimu.
Engkau adalah anak yang kukandung dan kulahirkan, jadilah anak yang baik bagi kami, jangan pernah engkau seperti anak-anak yang jalang yang pernah kutemui dan akhirnya ia menghabisi nyawa ayahnya hanya lantaran nasehat dan tutur kata yang baik. 


Anakku, tutur kata itu tidak selalu menyesatkan untukmu, karena kami tahu akan kebaikanmu kelak, bukan untukmu saja tapi bagi kami. 


Cukup.....aku tidak ingin perilaku orang itu tertular padamu, karena kutahu, engkau tidak akan seperti dia. Maka, senantiasalah untuk mendekatkan diri pada-Nya, karena hanya Ia lah yang mampu memeluk ragamu hingga ajalmu nanti. Maka kumau jangan nantinya dalam perjalanan hidupmu dan detik-detik akhir napasmu masih saja dunia menertawai, menghinakan dan bersorak-sorai disebabkan kau masih saja bermurung durja dalam meniti kehidupanmu sendiri. Atau kau biarkan hembusan napasmu dengan sumpah serapah dari dunia pertanda si pembual dan si pengacau kebenaran telah tiada. Pun kuingin jangan ikuti langkah mereka yang kematiannya berdarah-darah karena selalu berdusta pada sejarah. Atau mereka yang menyembunyikan kebenaran karena takut akhirnya mati ditikam ketakutannya sendiri. Berarti yang harus kau lakukan adalah senyum menawanmu karena kau paham akan rahasia-rahasia kehidupan, dalam mengenali misteri diri dan alam serta selimut kegaiban Allah, kemudian isilah perjalananmu dengan tertawa sepuas mungkin untuk menertawai dunia yang penuh kepalsuan-kepalsuan yang menjemukan, kemudian biarkan saja dunia menangis sejadi-jadinya melihat kepergianmu, sebagai saksi dari anak pejalan yang sahid di dalam perjalanannya.


Tersenyumlah yang manis untuk kami anakku,