Wednesday, 12 October 2011
Terima kasih untuk hal-hal yang ‘gak enak’, Ya Allah…
karena mereka malah membuatku semakin bersyukur atas hal kecil dan sederhana yang mungkin terlupa…
Terima kasih untuk kejadian yang menyedihkan,Ya Allah…
karena oleh mereka aku jadi makin dekat pada-Mu dan mampu menghargai hal-hal yang membahagiakan…
Terima kasih untuk setiap kegagalan,Ya Allah…
karena dari mereka aku belajar menghargai kesuksesan yang Kau izinkan mampir di hidupku…
Terima kasih untuk setiap kehilangan, Ya Allah…
karena aku semakin sadar bahwa hidup ini sementara yang abadi hanya diri-Mu
Terima kasih untuk setiap kemalangan, Ya Allah…
karena dari situlah aku belajar berdiri tegar tidak selalu mudah namun bisa terjadi dengan bimbingan-Mu.
Terima kasih untuk setiap kekuatiran,Ya Allah….
karena dengan demikian, aku datang dan membawa mereka pada-Mu sambil menyerahkan kehidupanku seutuhnya ke dalam tangan-Mu
Terima kasih untuk setiap kesukaran dan permasalahan,Ya Allah…
karena dengan adanya mereka aku belajar berusaha mencari solusi kreatif sekaligus berserah pada-Mu…
Terima kasih untuk semua yang ‘gak enak’ itu Ya Allah…
karena hidup bukanlah melulu kemapanan ataupun kenyamanan
namun juga proses pembelajaran…
Terima kasih,Ya Allah untuk itu semua…
karena kutahu, Kaubertujuan agar aku terus naik kelas dalam sekolah kehidupan bersama-Mu.
Category Renungan
Thursday, 6 October 2011
Sayangku Reza,
Kemarin malam kamu bertanya pada ibu, "Apakah berat menjadi seorang ibu?"
Kamu lihat sendiri, malam itu ibu harus buru-buru menyiapkan makan di meja, dimana satu telinga mendengarkanmu, sementara telinga yang lain menangkap suara adik-adikmu yang berisik sedang berdebat di gudang.
Waktu itu ibu menjawab, "Kadang-kadang ya, tetapi semuanya berharga. Sekarang pergi dan cari mainan sendiri." Jawaban ibu terlihat buru-buru dan sembarangan, tetapi kamu cukup puas mendengarnya.
"Bagus," kamu berkata. "Karena saya ingin menjadi seperti ibu saat besar nanti." Dan dengan senyum lebar kamu menghilang untuk bergabung dengan suara ribut adik-adikmu di gudang.
Setelah kamu tidur, ibu memikirkan lagi pertanyaanmu dan jawaban yang ibu katakan. Memang benar, menjadi seorang ibu adalah pekerjaan yang berat. Kadang-kadang sangat berat.
Ibu hanya punya waktu beberapa tahun (walaupun kadang terasa seperti selamanya) untuk mengajarimu menyeberang jalan dan memakai helm saat bersepeda. Mengajar untuk bisa mengucapkan "terima kasih" atau menjawab telpon dengan benar.
Menjadi seorang ibu berarti menjadi seorang pelindung, pengelola, wasit, kepala juru masak dan pencuci botol. Daftarnya bisa sangat panjang dan tanggung jawabnya seolah tidak ada habisnya. Tapi tiap hari ibu harus membuat pilihan terhadap semuanya itu: seharian penuh dengan rintangan atau menyingkirkan semua beban itu dengan menganggapnya sebagai suatu kesempatan yang menantang.
Sangat mudah untuk melihat semua rintangan itu.
Pegangan tangga penuh bekas tangan. Noda di karpet. Jaring laba-laba di sudut rumah. Boneka berdebu di bawah tempat tidur. Mainan yang berserakan. Sampah yang bau. Hidung ingusan. Rambut gimbal. Kaus kaki bolong. Makanan basi.
Jika masalah itu melimpah, hari-hari ibu sangat berat dan penuh air mata. Pada hari itu ibu memakai baju yang lusuh, karena jika tidak terkena muntahan si kecil, kamu mengoleskan tangan kotormu di baju ibu. Akhirnya setelah sepanjang hari yang melelahkan ibu mencoba tidur singkat di tengah malam, tetapi kadang masih terdengar suara teriakan dari kamar kalian, "Bu, kasurnya basah. Rayhan ngompol."
Akan tetapi jika ibu memandang itu semua sebagai suatu kesempatan, maka segala sesuatu menjadi terasa indah dan menyenangkan.
Tepukan di punggung atau kepala kalian menyandar di bahu ibu. Tenda yang kalian buat di ruang makan. Pengumuman bahwa pameran lukisan dibuka dengan pajangan gambar tangan anak-anak umur empat tahun. Diskusi rahasia di gudang untuk membuat taktik bagaimana caranya memata-matai ibu. Sentuhan di tangan ibu di tengah malam dan suara kalian berkata, "Apa malam ini saya bisa tidur di sini bersama ibu?"
Ibu suka tertawa saat melihat mulutmu belepotan krim coklat, karena ibu tahu kamu paling suka kue brownis yang baru saja diangkat dari oven. Ibu juga bisa tersenyum saat menemukan sarung tangan yang basah kuyup, karena ibu tahu bahwa kamu sangat bangga dengan benteng salju yang kalian buat di halaman belakang.
Hari-hari ibu penuh dengan kejutan dan hal-hal yang menantang. Ibu sering berbicara sendiri untuk membangkitkan semangat: Ya, ibu bisa berjaga tengah malam sekali lagi untuk mengurus adikmu yang masih bayi - dia baunya sedap. Ya ibu bisa membaca tulisan 'Kucing di kepala' sekali lagi - saat dia tertidur di gendongan ibu. Ya - ibu bisa mendengar sekali lagi pertengkaran kalian tanpa kehilangan kesabaran karena ibu tahu suatu hari kalian akan menjadi sahabat yang baik satu dengan yang lain.
Kemarin malam, setelah makan selesai, kalian bertiga segera berlari ke ruang keluarga dengan rencana yang hebat untuk membuat sebuah benteng terbesar dari Lego. Kalian begitu saja melupakan pertengkaran selama makan malam.
Kemudian dari balik bungkusan koran kalian membawa potongan kayu bakar ke dalam rumah. "Kita perlu banyak kayu bakar," kamu memberi tahu ibu, "Karena kami akan membuat api unggun yang sangat besar." Kemudian kamu masukkan semuanya ke perapian dan mulai menyanyi di depan adik-adikmu.
Ibu mendengar suara gemeretak kayu yang terbakar, dan debu beterbangan dari nyala api yang keluar dari lubang perapian. Melihat itu ibu tahu bahwa sukacita menjadi seorang ibu jauh lebih besar dari tantangan yang harus ibu hadapi.
Apakah berat menjadi seorang ibu? Kadang-kadang.
Apakah menyenangkan? Selalu.
Sayang kalian selalu,
Ibu
Source : unknown/mail archive
Category Renungan
Saturday, 13 August 2011
Jika membahas tentang cinta pasti sabar harus di ikutsertakan…
tak ada cinta yang tak butuh ke sabaran…
tak ada cinta yang tak membutuhkan ke ikhlasan dan perjuangan..
bukan pihak ke 3-lah (jika ada) yang menjadi musuh terbesar dalam hubungan 2 insan manusia tetapi melawan diri sendirilah yang butuh perjuangan dan di sertai dengan kesabaran..
cinta tanpa kesabaran tak akan pernah ada.. jikalau ada tak akan pernah bertahan lama.. itu benar..
saling percaya adalah salah satu bentuk kesabaran.. tanpa adanya rasa sabar tak akan ada percaya..lidah itu tak bertulang! logika itu tak berujung! semua ada kemungkinannya
saling memahami butuh kesabaran… tak akan mungkin ada perasaan saling memahami tanpa di dasari oleh kesabaran.. karena tanpa kesabaran yang ada hanya salah paham belaka..
saling menyanyangi mengajari cara bagimana memposisikan kesabaran di atas segala galanya…
tanpa kesabaran cinta tak akan hadir..
tanpa kesabaran cinta hanya nafsu belaka..
tanpa kesabaran.. cinta hanya akan menjadi penyakit…
maka.. jika kau menginginkan cinta.. bersabarlah.. cinta akan datang padamu tanpa dicari..
SubhanAllah…
~kompasiana~
Category Renungan
Subscribe to:
Posts (Atom)
