Pages

Tuesday, 24 January 2012

Dari tadi pagi hujan mengguyur kota tanpa henti, udara yang biasanya sangat panas, hari ini terasa sangat dingin. Di jalanan hanya sesekali mobil yang lewat, hari ini hari libur membuat orang kota malas untuk keluar rumah.

Di perempatan jalan, Umar, seorang anak kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah, dia membiarkan tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia begitu erat melindungi koran dagangannya dengan lembaran plastik.

“Korannya bu !”seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan.

Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan kasihan, dalam hatinya dia merenung anak sekecil ini harus berhujan-hujan untuk menjual koran. Dikeluarkannya satu lembar dua puluh ribuan dari lipatan dompet dan membuka sedikit kaca mobil untuk mengulurkan lembaran uang.

“Mau koran yang mana bu?, tanya Umar dengan riang.
”Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi aku juga sudah baca”, jawab si ibu.

Si Umar kecil itu tampak terpaku, lalu diulurkan kembali uang dua puluh ribu yang dia terima, ”Terima kasih bu, saya menjual koran, kalau ibu mau beli koran silakan, tetapi kalau ibu memberikan secara cuma-cuma, mohon maaf saya tidak bisa menerimanya”, Umar berkata dengan muka penuh ketulusan.

Dengan geram si ibu menerima kembali pemberiannya, raut mukanya tampak kesal, dengan cepat dinaikkannya kaca mobil. Dari dalam mobil dia menggerutu ”Udah miskin sombong!”. Kakinya menginjak pedal gas karena lampu menunjukkan warna hijau. Meninggalkan Umar yang termenung penuh tanda tanya.Umar berlari lagi ke pinggir, dia mencoba merapatkan tubuhnya dengan dinding ruko tempatnya berteduh.Tangan kecilnya sesekali mengusap muka untuk menghilangkan butir-butir air yang masih menempel. Sambil termenung dia menatap nanar rintik-rintik hujan di depannya, ”Ya Tuhan, hari ini belum satupun koranku yang laku”, gumamnya lemah.

Hari beranjak sore namun hujan belum juga reda, Umar masih saja duduk berteduh di emperan ruko, sesekali tampak tangannya memegangi perut yang sudah mulai lapar.Tiba-tiba didepannya sebuah mobil berhenti, seorang bapak dengan bersungut-sungut turun dari mobil menuju tempat sampah,”Tukang gorengan sialan, minyak kaya gini bisa bikin batuk”, dengan penuh kebencian dicampakkannya satu plastik gorengan ke dalam tong sampah, dan beranjak kembali masuk ke mobil. Umar dengan langkah cepat menghampiri laki-laki yang ada di mobil. ”Mohon maaf pak, bolehkah saya mengambil makanan yang baru saja bapak buang untuk saya makan”, pinta Umar dengan penuh harap. Pria itu tertegun, luar biasa anak kecil di depannya. Harusnya dia bisa saja mengambilnya dari tong sampah tanpa harus meminta ijin. Muncul perasaan belas kasihan dari dalam hatinya.

“Nak, bapak bisa membelikan kamu makanan yang baru, kalau kamu mau”
”Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu rasanya sudah cukup bagi saya, boleh khan pak?, tanya Umar sekali lagi.”Bbbbbooolehh”, jawab pria tersebut dengan tertegun. Umar berlari riang menuju tong sampah, dengan wajah sangat bahagia dia mulai makan gorengan, sesekali dia tersenyum melihat laki-laki yang dari tadi masih memandanginya.

Dari dalam mobil sang bapak memandangi terus Umar yang sedang makan. Dengan perasaan berkecamuk di dekatinya Umar.

”Nak, bolehkah bapak bertanya, kenapa kamu harus meminta ijinku untuk mengambil makanan yang sudah aku buang?, dengan lembut pria itu bertanya dan menatap wajah anak kecil di depannya dengan penuh perasaan kasihan.”Karena saya melihat bapak yang membuangnya, saya akan merasakan enaknya makanan halal ini kalau saya bisa meminta ijin kepada pemiliknya, meskipun buat bapak mungkin sudah tidak berharga, tapi bagi saya makanan ini sangat berharga, dan saya pantas untuk meminta ijin memakannya ”, jawab si anak sambil membersihkan bibirnya dari sisa minyak goreng.

Pria itu sejenak terdiam, dalam batinnya berkata, anak ini sangat luar biasa. ”Satu lagi nak, aku kasihan melihatmu, aku lihat kamu basah dan kedinginan, aku ingin membelikanmu makanan lain yang lebih layak, tetapi mengapa kamu menolaknya”.Si anak kecil tersenyum dengan manis,
”Maaf pak, bukan maksud saya menolak rejeki dari Bapak. Buat saya makan sekantong gorengan hari ini sudah lebih dari cukup. Kalau saya mencampakkan gorengan ini dan menerima tawaran makanan yang lain yang menurut Bapak lebih layak, maka sekantong gorengan itu menjadi mubazir, basah oleh air hujan dan hanya akan jadi makanan tikus.”

”Tapi bukankah kamu mensia-siakan peluang untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih nikmat dengan makan di restoran di mana aku yang akan mentraktirnya”, ujar sang laki-laki dengan nada agak tinggi karena merasa anak di depannya berfikir keliru.

Umar menatap wajah laki-laki didepannya dengan tatapan yang sangat teduh,”Bapak!, saya sudah sangat bersyukur atas berkah sekantong gorengan hari ini. Saya lapar dan bapak mengijinkan saya memakannya”, Umar memperbaiki posisi duduknya dan berkata kembali, ”Dan saya merasa berbahagia, bukankah bahagia adalah bersyukur dan merasa cukup atas anugerah hari ini, bukan menikmati sesuatu yang nikmat dan hebat hari ini tetapi menimbulkan keinginan dan kedahagaan untuk mendapatkannya kembali di kemudian hari.”Umar berhenti berbicara sebentar, lalu diciumnya tangan laki-laki di depannya untuk berpamitan. Dengan suara lirih dan tulus Umar melanjutkan kembali,”Kalau hari ini saya makan di restoran dan menikmati kelezatannya dan keesokan harinya saya menginginkannya kembali sementara bapak tidak lagi mentraktir saya, maka saya sangat khawatir apakah saya masih bisa merasakan kebahagiaannya”.

Pria tersebut masih saja terpana, dia mengamati anak kecil di depannya yang sedang sibuk merapikan koran dan kemudian berpamitan pergi.”Ternyata bukan dia yang harus dikasihani, Harusnya aku yang layak dikasihani, karena aku jarang bisa berdamai dengan hari ini”

Thursday, 22 December 2011


Anakku ...ketika aku semakin tua,
Aku berharap kamu memahami,dan memiliki kesabaran untukku
Saat ketika aku memecahkan piring, atau menumpahkan sup di atas meja
Lantaran penglihatanku yang kian pudar, aku berharap kamu tidak memarahiku
Ketahuilah orang tua sepertiku sensitif jiwanya, selalu merasa bersalah jika kamu membentak

Ketika pendengaranku semakin hilang
Dan aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan
Aku berharap kamu tidak memanggilku TULI.
Mohon diulangi apa yang kamu katakan atau tuliskan untukku
Maaf, anakku . . aku semakin tua

Ketika lututku mulai lemah, aku berharap kau miliki kesabaran
Untuk membantuku berdiri, sebagaimana aku selalu membantumu,
Sewaktu kamu masih kecil dan bertatih

Aku mohon jangan pernah bosan denganku, ketika aku terus mengulangi apa yang aku katakan umpama kaset yang rusak,
Aku berharap kamu terus mendengar bicaraku
Jangan sesekali mengejekku atau bosan tuk mendengarkan suaraku ...
Apakah kamu ingat waktu kamu masih kecil dan kamu inginkan sebuah balon ???
Kamu ulangi permintaanmu berulang-ulang kali, sehingga kamu dapat apa yang kamu inginkan

Maafkan juga bauku ..bau insan yang sudah tua
Aku mohon jangan memaksaku untuk mandi..tubuhku lemah sekali
Orang tua sepertiku mudah sakit kerana kedinginan
Aku jua berharap aku tidak jijik di matamu
Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil ???
Aku selalu mengejarmu kerana kamu enggan mandi,
Anakku, aku menagih kesabaranmu terhadapku ...

Aku harap kamu bersabar ketika aku selalu lemah ...lantaran fitrah seorang tua ..
Kamu akan pasti mengerti jika kamu melaluinya kelak

Jika kamu memiliki waktu luang, aku berharap kita bisa berbicara
Walau hanya beberapa minit
Kerana aku kesunyian sepanjang waktuku, tiada teman untuk berbicara,
Aku tahu kesibukan kerjamu
Jika kamu tidak berminat dengan bicaraku sekalipun
Aku mohon luangkan waktumu bersamaku ...
Apakah kamu ingat waktu kamu masih kecil ...
Aku selalu mendengar apapun bicaramu, tentang segala alat mainanmu ...

Maaf, ketika saatnya tiba ...saat aku hanya terbaring kesakitan
Ketika aku tidak mampu mengurus diriku
Aku berharap kamu memiliki kesabaran untuk menjagaku..
Untuk saat-saat terakhir dalam hidupku

Aku mungkin tidak akan hidup lebih lama ...
Ketika kematian menjemputku, aku berharap kamu selalu bersamaku,
Dan memberikan kekuatan untukku menghadapinya

Dan jangan kamu bimbang wahai anakku ...
Pada Sang Pencipta ...aku akan memohon Kepada-Nya ..
Agar sentiasa memberkatimu

Kami menyayangimu, Terima kasih atas segala perhatianmu ...
Kami selalu mencintaimu sepenuh kasih sayang yang mendalam


Dedicate 4 my ♥♥ Wisnu, Pangestu, Afif ♥♥
              my nephew abang salif , ade'hamem



~milis sebelah

Wednesday, 2 November 2011


Inspiring story...

Suatu hari saya naik angkutan kota dari Darmaga menuju Terminal Baranangsiang, Bogor.
Pengemudi angkot itu seorang anak muda. Didlm angkot duduk 7 penumpang, termasuk saya. Masih ada 5 kursi yg blm terisi.

Di tengah jalan, angkot2 saling menyalip utk berebut penumpang. Tapi ada pemandangan aneh. Di depan angkot yg kami tumpangi, ada seorang ibu dengan 3 org anaknya berdiri di tepi jalan. Tiap ada angkot yg berhenti dihadapannya, dari jauh kami bisa melihat si ibu bicara kepada supir angkot, lalu angkot itu melaju kembali.

Kejadian ini terulang beberapa kali.
Ketika angkot yg kami tumpangi berhenti, si ibu bertanya "Dik, lewat terminal bis ya?", supir tentu menjawab "ya".
Yang aneh ibu tidak segera naik. Ia bilang "tapi saya dan ke 3 anak saya tdk punya ongkos." Sambil tersenyum, supir itu menjawab "gak papa Bu, naik saja", ketika si Ibu tampak ragu2, supir mengulangi perkataannya "ayo bu, naik saja, tidak apa-apa "

Saya terpesona dgn kebaikan Supir angkot yg masih muda itu, di saat jam sibuk dan angkot lain saling berlomba utk mncari penumpang, tapi si Supir muda ini merelakan 4 kursi penumpangnya utk ibu & anak2nya.

Ketika sampai di terminal bis, 4 penumpang gratisan ini turun. Si Ibu mengucapkan terima kasih kepada Supir.
Di belakang ibu itu, seorang penumpang pria turun lalu membayar dgn uang Rp 20rb.

Ketika supir hendak memberi kembalian (ongkos angkot hanya Rp.4rb)
Pria ini bilang bahwa uang itu utk ongkos dirinya & 4 penumpang gratisan tadi. "Terus jadi orang baik ya, Dik " kata pria tsb kepada sopir angkot muda itu

Sore itu saya benar2 dibuat kagum dgn kebaikan2 kecil yg saya lihat. Seorang Ibu miskin yg jujur, seorang Supir yg baik hati, dan seorang penumpang yg budiman.
Mereka saling mendukung utk kebaikan... :)